Lo semua tau kan yang gue maksud siapa? Oke, meskipun salah satu temen gue adalah saudaranya paslon yang gue omongin, fakta ini tidak akan memberhentikan gue untuk sedikit berkomentar tentang apa yang baru saja terjadi di Mata Najwa Eksklusif: Babak Final Pilkada Jakarta (27/3) yang dimulai jam 19.30 tadi. Gue memang ketinggalan beberapa segmen karena gue ketiduran, cuma gue akan bahas beberapa hal yang menurut gue patut untuk di-highlight.
Pertama, kenapa harus nyinyir terus sih? Anda tuh calon gubernur lho, bukan anak bocah di Twitter yang sukanya nyindir nggak jelas juntrungannya. Yang gue lihat di debat ini, bukannya anda "menjual diri" dengan program kerja anda yang katanya sering ditiru, tapi anda lebih fokus menyerang paslon sebelah. Bukannya ini menyia-nyiakan kesempatan emas? Istilahnya, anda ngiklan gratis, tapi malah kena batunya.
Selain itu, kenapa anda harus berlagak seakan-akan anda tuh korban? Sedikit saya dengar, anda protes bahwa paslon sebelah menjadi provokator dalam kampanye. Hello, earth to you? Seperti yang anda tahu, pendukung anda sendiri membuat spanduk bernada provokasi. Sudah beberapa orang menjadi korban dan viral di media sosial. Tidak lupa membawa-bawa SARA.
Lalu, pernyataan anda tentang tidak ingin diserang secara pribadi. Tidak ingat ya, kalau setiap debat, anda tidak luput dari menyerang pribadi paslon lain? Justru dari yang gue lihat, orang ini seringkali emosi dan karena kehabisan argumen, akhirnya balik lagi menyerang pribadi.
Mengenai keuangan kampanye anda, gue rasa perlu ditanyakan, kepada siapa uang tersebut akan dikembalikan? Masa mungkin seorang pengusaha yang kaya raya banget, meskipun hanya small fraction dari seluruh hartanya, mau memberikan secara cuma-cuma? Small fraction-nya dia sih beda ya dibanding kita... Maklum, bukan orang kaya raya banget. Apakah anda sekalian percaya, kalau uang segitu bakal dibiarkan hangus begitu saja buat kampanye? Perbedaannya dengan paslon sebelah, ya, asal dananya. Kebanyakan dari rakyat. Tahu kan kalau gitu hutang budinya bayar ke siapa? Tentu sesuai dengan mayoritas dana tersebut berasal. Kalo dari pribadi... ya sudahlah. Ketebak akhirannya.
Seringkali juga, pertanyaan yang diberi oleh moderator tidak dijawab dengan jelas. Masalah DP, di mana website yang bisa saya akses untuk melihat daftar rumah dibawah 300 juta di Jakarta? Apakah supply dan demand-nya mencukupi untuk generasi milenial? Perhitungannya pun belum ada kejelasan. Hanya menekankan DP 0%, urusan cicilan nanti juga ketemu solusinya gimana. Ketika disanggah bahwa tidak realistis, membalikkan dengan alasan pendekatan lama. Halah.
Solusi-solusi yang anda sodorkan juga kurang konkrit. Karena ya... yang anda bicarakan selalu mengenai pendidikan dan pendidikan. Kami tahu kalau pendidikan memang bidang anda, tapi tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendidikan. Kalau perut kosong, dikasih pendidikan, bisa apa? Semuanya juga ada urutannya, ngurusin A dulu, baru ke B. Mungkin, kalau bukan ngomongin pendidikan, takut kalah argumen, ya? Hadeuh. Retorika yang disampaikan tidak bisa mengisi perut rakyat yang kelaparan. Istilahnya, orang lapar kok dikasih buku. Emang dia mau makan kertas? Yang dibutuhkan adalah orang yang punya solusi konkrit dan riil tentang apa yang dialami saat ini. Mungkin anda terlalu sering melayang di awang-awang, sampai lupa apa yang terjadi di muka bumi.
Jadi, kalau diibaratkan pertandingan, di sepanjang debat ini, paslon yang sedang gue omongin tuh selalu nyerang, dan lawannya cuma bertahan. Tapi, siapa sih yang tahan nyerang terus menerus? In the end, yang selalu nyerang bakal kecapekan, karena kita semua juga tahu kalau menyerang itu lebih capek dibandingkan bertahan.
Tanggal 19 April, kita, warga DKI Jakarta bakal jadi saksi sejarah untuk 5 tahun kedepan. Semuanya ada di tangan kita, sih. Please, choose wisely.
Tulisan ini gue buat ditengah-tengah kepusingan buat review KAP dan keteleran gue setelah ketiduran 3.5 jam. Serta keprihatinan gue terhadap kondisi Pilkada DKI Jakarta yang udah nggak kondusif lagi karena, well, selalu bawa-bawa SARA. Ciao!