Saturday, February 16, 2019

Review Kindle Paperwhite 2018

Halo, halo! Setelah sekian lama akhirnya ngepost lagi. Kali ini, gue mau review Kindle Paperwhite 2018.

Jadi, udah lama gue tau tentang Kindle Paperwhite. Buat yang belum tau, Kindle itu e-book reader yang dijual sama Amazon. Bedanya sama HP, layar dia pakai teknologi e-Ink, jadinya mata nggak akan pegel kayak kita main HP. Bener-bener kayak buku deh, pokoknya.

Dari SMP, gue udah suka baca novel atau Wattpad di iPod, di HP, dan sebagainya. Jaman SMA, gue udah jarang banget pegang novel fisik. Pas kuliah, apa lagi. Gue naik KRL, jadi agak ribet kalau harus bawa-bawa novel dan baca di kereta. Lama-lama, gue merasa, kok pegel ya mata kalau baca di HP kelamaan?

Iseng searching, ketemu lah Kindle Paperwhite. Sebenernya ada 4 varian dari Kindle, yaitu Kindle, Kindle Paperwhite, Kindle Voyage, dan Kindle Oasis. Setahu gue, yang Voyage udah discontinue. Kindle Oasis adalah tipe yang paling mahal, intinya nggak cocok untuk mahasiswa dengan uang terbatas seperti gue.

Lalu, apa bedanya Kindle biasa dengan Paperwhite?

Bedanya ada di backlight dan ketajaman layarnya. Kalau Kindle biasa harus ada sumber cahayanya dulu baru bisa baca, Paperwhite nggak. Dia punya backlight, yang meskipun nggak otomatis, tapi lumayan terang buat di dalam ruangan. Terus, Paperwhite juga lebih tajam dengan layarnya yang 300PPI. Ya tapi intinya sih yang bikin gue pilih Paperwhite adalah backlightnya.

Akhir November, gue baru baca berita kalau Kindle Paperwhite baru diperbarui spesifikasinya (sebenernya udah dari Oktober sih rilisnya, gue aja yang telat tau) setelah 3 tahun nggak ada perubahan. Storage yang di generasi sebelumnya (2015) cuma 4GB, sekarang ada pilihan 8GB dan 32GB. Bedanya cuma sekitar 500 ribuan, jadi menurut gue sih, kalo emang punya uang lebih, mending sekalian 32GB aja, bisa buat baca komik dan audiobook (lewat Bluetooth) juga soalnya. Paperwhite 2018 juga waterproof, bisa direndem ke air. Ya nggak ada yang mau ngerendem juga sih, tapi seenggaknya kan lebih aman kalau nggak sengaja kecemplung. Terus, desainnya juga berubah. Jujur sih awalnya jelek bentuknya, layar sama bezel nggak nyatu, sekarang jadi nyatu, lebih cakep pokoknya.

Setelah beberapa bulan penuh dengan hMMMM HADUH AGAK GAK RELA dan HMmMMMM BELI GAK YA, akhirnya gue beli juga. Hiyaaa. Kenapa akhirnya beli? Karena gue kepengen baca buku lebih banyak. Itu aja sih.

Gue beli di Bukalapak, nama sellernya souvigameshop. Kenapa gue beli disitu? Ya jelas, karena paling murah lah. Tapiii, garansinya cuma 2 hari. Ada sih seller yang jual lebih mahal, garansi setahun dan dibantuin klaimnya, kalo emang pengen jaga-jaga.

Btw, gue nggak pernah liat Kindle Paperwhite secara langsung sebelumnya, jadi, gue bener-bener beli buta.

Sekarang masuk ke review benerannya ya. First impression gue pas udah unboxing:
HAH INI KERTAS?
dan
Ih enteng ya, belakangnya nggak licin pula.

Serius, semirip itu sama kertas kalau lagi kondisi locked. Layarnya matte juga, yang semakin menambah kesan kertas. Serumah gue juga setuju itu sekilas mirip kertas biasa, bukan gadget.

Di box, cuma dapat kartu welcome, kabel USB buat ngecharge, dan Kindle Paperwhite. Nggak dapat adaptor. Berhubung gue udah punya koleksi ebook, tinggal convert aja pakai Calibre, colok, langsung transfer ke Kindle.

Sebelum tidur biasanya gue baca buku lewat HP. Akibatnya, mata gue sering perih dan berair. Waktu itu gue coba baca di Kindle Paperwhite dengan kondisi lampu mati semua, cuma ada cahaya sedikit lewat jendela, nggak perih. Waaa senangnya.

Berhubung versi yang gue beli 32GB, gue coba baca One Piece (btw ini effort banget mindahinnya, harus extract cbz jadi jpg, diconvert lagi ke pdf). Adeeem.

Untuk baterainya, gue belum pernah pakai ini sampai habis, tapi kalau ngecharge dari 60%-an pakai adaptor biasa, bisa 2 jam sih. Yang jelas, ini tahan berhari-hari, apa lagi kalau wifi-nya dimatiin terus. Gue pakai ini kira-kira satu jam per hari, udah 10 hari, masih sisa 64%. Lumayan kan, dibandingin baca pakai HP, nggak bakal bisa selama itu (ya ga tahan juga sih matanya).

Selama 2 minggu pakai Kindle, gue udah ngabisin 3 buku berbahasa Inggris. Buat gue sih ini prestasi hehe, nggak tau kalo orang lain.

The Ghostwriter x sunset
Yah, semoga review ini membantu kalian yang lagi bingung mau beli Kindle Paperwhite apa nggak. :)


Saturday, December 29, 2018

Review Selamat Pagi, Malam

Sebelum gue mulai, gue akan bilang ini dulu: gue bukan ahli, jadi ini sekadar pandangan gue aja. Btw, gue nonton ini di VIU, dan kayaknya ini satu-satunya film Indonesia yang bikin gue... WOW.

Menurut gue, film ini brilian. Banyak banget bagian yang isinya still shot aja, tapi tetep keren! Film ini menceritakan 3 orang wanita di malam hari, di mana mereka punya cerita sendiri-sendiri, tapi terkait dengan satu sama lain.

Wanita pertama namanya Gia, dia baru pulang dari New York setelah 7 tahun di sana. Kali ini, dia pulang untuk selamanya. Di Jakarta, dia merasa kalau Jakarta itu bukan lagi rumah buat dia. Untuk mengatasi ketidakcocokan dengan Jakarta, dia nyoba untuk kontak 'temen' lamanya, Naomi. Gayung bersambut, mereka pun ketemu di sebuah restoran mewah. Pas ketemu di restoran, Naomi cerita kalau sepatu dia dicuri di gym. Tanpa dia tahu, kalau yang nyuri adalah Indri, wanita kedua yang diceritakan di film ini. Ia adalah salah satu pegawai gym, yang sedang mencoba cara lain supaya bisa 'naik kelas'. Caranya? Chatting dengan laki-laki tajir yang dia temukan di internet. Fotonya sih... cakep. Pas diajak ketemuan, ternyata beda banget. Terus, ada Ci Surya, yang suaminya baru aja meninggal. Ketika beliau buka dompetnya.. ternyata ada nomor selingkuhannya, Sofia. Ci Surya pun dateng ke Lone Star Hotel, di mana Sofia kerja. Ternyata, rencana Ci Surya nggak semulus itu buat konfrontasi ke Sofia. Malam itu, nasib 3 wanita tersebut dibolak-balik di Lone Star Hotel.

Sejujurnya gue paling suka bagian Gia dan Naomi, karena paling.. raw. Fragile. Paling bikin emosi keaduk-aduk. Rapuhnya Gia di Jakarta yang nggak lagi terasa seperti rumahnya bener-bener sukses dibawa sama Adinia. Ada kalimat yang ngenyek banget di film ini, ketika Naomi ngomong ke Gia,
"There's no place for us here."
WAHHH beneran langsung 'nyes' deh.

Cerita Indri dan Ci Surya juga oke, tapi apa ya... nggak terlalu membekas? Bagus, tapi nggak terlalu bikin gue 'gerak'. Meskipun begitu, gue kasih 4 jempol (ya, termasuk jempol kaki) untuk 4 aktris di film ini. Keren banget, parah. Bisa banget bikin gue yang bosenan nonton film, ketarik ke film ini dan nggak ngepause sama sekali. Gue dari dulu emang seneng sama aktingnya Adinia Wirasti, dan di film ini, gue nggak kecewa sama sekali. Somehow, cara dia masuk ke peran Gia, bikin... apa ya... bikin orang lain ikut ngerasain apa yang dirasain Gia.

Sebagai penutup, film ini gue rekomendasikan banget buat ditonton. Sebagai orang Jakarta, pahit-pahit yang ditunjukkin di film ini pas banget dosisnya. Tonton di VIU, ya! #bukanendorse


Friday, November 30, 2018

Needed: Stop

It's not like I wanted this to happen. I want to stop. All of this.
I chugged a bottle. Oh, it felt hot on my throat. Not that I would've stopped, no. It just made me thirstier.
Yet, it's not the one that stopped me.

I looked at you one more time, might be the last time, thinking that it's time to quit.
Yet, you looked back at me, and I know, I know that you didn't want me to.

It's never wrong, nor right.
Deep in my heart, I know I need to stop.


Why the fuck do I keep writing about something that involves 'bottle'... Lol
For real though, I've been scared of myself lately.

Thursday, November 22, 2018

Switching to Mac from Windows


Hi. My laptop’s screen broke since last year. Its screen glitches and flickers whenever I open something that has a black background. Annoying as fuck. It’s heavy too, therefore I can’t bring it anywhere. 2,9 KG BRUH.

I thought about it.. and so I googled a laptop that would suit my needs. All of the ultrabooks seem good enough, but I want something different. After lots of googling and reading reviews on the internet, I still don’t know which one I’m going to buy. Not so long after that, I saw that Macbook Pro just came out (it was 2017). There were two version of Macbook Pro 2017, the one with function keys and another one with Touch Bar. It was easy, of course I chose the one with function keys. But it was only available with 256gb storage. Oh no. I’m currently using a 500gb SSD and sometimes I felt like it’s not really enough. Then something bad happened and I cancelled my plan.

Fast forward to 5th semester. Initially, I was like, “Eh, okay, I’ll just keep using my big heavy laptop. I don’t need to bring my laptop anyway.” Turned out I really needed it. My family don’t use laptop really much, except me. My sister has the 2010 15-inch Macbook Pro that I occasionally bring to campus. It is heavy, but not as heavy as mine. One more problem… It has that video card issues that causes kernel panic. Even though it’s problematic, at least it saved me, once. I did my assignments wrong, but I still have time to correct and get it printed. The Macbook Pro boots up… then, bam. It just restarted itself. Thank God I always keep my college assignments on Dropbox. It still saved me anyway.

I told my mom about my plan to buy a new laptop but it wasn’t until yesterday we bought it. I was torn between 2018 and 2017, because the 2018 one has quad core processor. I plan to use this for another minimum 5 years, so why not wait a little longer so I can buy the better one? I tried justifying the 256gb storage, but no… I don’t want my laptop storage to feel like a tight underwear. It wouldn’t be convenient to transfer my files back and forth just because I don’t have free storage.

I was an avid Windows user. I only used Mac for about two months in 2015/2016 (don’t remember lol). When I used my sister’s Mac, I was mesmerized by its smoothness. Even though my sister doesn’t swap her HDD to SSD like lots of older Mac user, from what I experienced, it still counted as smooth. I also saw my friend’s Mac and its display amazed me. The color just JUMPED OUT and looks so good.

So it goes, (Taylor Swift reference, ha.) I bought a Mac. I went from 15.6-inch laptop to 13.3-inch. My mom, when she saw this laptop, she said, “Are you sure this is the laptop that you want? Isn’t it a bit small?” then I replied, “Well, this is what it takes to make a lightweight laptop.” I never thought that going from 15.6 inch to 13.3 would be this easy. Believe it or not, I didn’t even realize that much screen size difference. Could the screen resolution be the factor? From 1080p to Retina Display.

Then, the keyboard. Macbook Pro from 2016 was plagued by the keyboard issue. People reportedly said that their keyboard feel sticky, sometimes unresponsive, sometimes double inputting whatever they pressed. Well, my friend’s right shift button did stick. That was also the factor that made me buy the 2018 instead of 2017 one, other than the processor. But, people also said that the membrane silicone on 2018 didn’t fix the problem. I’ve only been using this for about a month, so I can’t say much about the issue and hopefully won’t have to deal with it. I came from Accutype keyboard by Lenovo that has the perfect tactile feedback and clicky typing for my taste. Now I’m moving to Butterfly keyboard that has soooo little travel key and loud. Oh boy, I do like loud typing key very much. This is serious. I don’t like silent keyboard, it just doesn’t feel right. I transitioned very easily, maybe a little bit typo here and there, but overall it’s been a good experience typing on this keyboard as I write this. I didn’t feel cramped like others said about typing on this keyboard. I also told my mom that I didn’t press my keyboard THAT hard, because it is loud.

Anyway, the major reason why I chose Macbook instead of Dell XPS 13 is the trackpad. Did I tell you that while using my sister’s Macbook, I was able to edit photos and videos without mouse? Imagine THE PAIN if you’re using a Windows laptop. Dell XPS 13, that laptop is light as hell, packing 16GB of RAM and 512GB SSD in just 1,2 kg, also, i7 processor, but the trackpad… It’s so small compared to the new Macbook. Fyi, the Macbook Pro’s trackpad is approximately 13 x 8 cm. That is the biggest trackpad available on an ultrabook.

All of the good reason why I’m switching to Mac doesn’t mean that this operation system is flawless. I don’t know what’s happening, but, Windows App Store is growing faster, yet the App Store is just… App Store? It doesn’t even have Instagram of Twitter official account. Not even Netflix. This is one (or two?) thing that irks me.

But, now… I’m a Mac user. I know this post won’t help anyone in any way, I’m just in the mood for sharing. Please choose your laptop wisely. I’m available to contact if you just want to consult which laptop is suitable for you, budget and spec-wise.

Sunday, November 18, 2018

Review Brooklyn 99


Halo teman-teman!!! Tadinya mau nulis pake bahasa Inggris cuma lagi males mikir, jadi yah, bahasa Indonesia aja yah.

Teman-teman pernah denger nggak Brooklyn 99, atau kadang disebutnya B99??? Pernah dong ya, apa lagi kalo di Twitter.

Ini adalah sitkom TV yang ditayangin di FOX, pada awalnya, tapi, tahun ini ada rencana untuk dibatalin. Kalo sempat liat di Twitter, banyak orang yang protes dan sedih. Akhirnya, acara TV ini sekarang dipegang oleh NBC.

Awalnya waktu liat di Twitter, gue kayak,
"TV show apaan sih ini? Kok rame amat orang-orang?"
Lalu, karena gue lagi nggak ada kesibukan apa-apa pas liburan, dan direkomendasikan juga oleh teman, akhirnya gue tonton lah di Netflix. Beneran lucu banget, parah.

Tadinya gue kira, karena sitkom, yang biasanya disitu-situ aja setnya, bakal bosenin. Ternyata nggak. Gue bahkan nggak merhatiin set-nya sama sekali. Karakternya pun cukup diverse, nggak cuma orang kulit putih, ada yang gay, kulit hitam, dan Hispanik.

Untuk sisi percintaannya pun bukan yang ketemu-suka-pacaran-nikah gitu aja. Banyak naik turunnya sampe akhirnya ada yang pacaran. #PERALTIAGO

Intinya, untuk yang lagi nyari TV show yang bergenre komedi, ini buat lo.
Score: 9/10 (sampai season 5)

Monday, September 10, 2018

Foto dan Virus

Sesuai dengan judulnya... akhir-akhir ini gue baru keingetan kalo tahun 2015, gue mengalami kejadian yang bikin sakit hati sampai sekarang.

Laptop gue kena virus dan nge-encrypt semua foto dan dokumen. Gue nggak peduli dengan dokumennya, isinya cuma tugas-tugas doang. Yang gue peduliin adalah.... foto. Gila lo, itu folder isinya memori 5 tahun lebih. Dari jaman foto yang masih banyak noisenya. Semua tangkapan layar chat atau SMS gue sama orang. Video gue pas ada acara.

Beneran masih sakit hati sampai sekarang. Nangis kejer. Ya gila looo. Jaman gue masih temanan sama si A, sampe sekarang temenan sama si Z, dan ada yang masih temenan sama si B. Chat sama crush gue. Ah, isinya hal-hal goblok tapi nggak tergantikan.

Seinget gue, dulu virusnya minta pake Bitcoin bayarnya. Sayangnya pada saat itu gue belum ngerti Bitcoin, kalo udah ngerti, gue rela bayar. Beneran. I would pay for those precious photos and videos. Gobloknya lagi, belum lama sebelum itu, gue baru aja ngebuang SD card yang gue temuin di HP. Gue baru aja ngehapus backup foto dan file di hdd external gue. Kurang tolol apa coba gue?

Hahahaha.

I learned my lesson, guys. Backup all the photos and videos on all of your devices to external HDD. It's not as expensive as it was 3 years ago. 2TB HDD is available for Rp1.100.000. I bought that shit 4 years ago for Rp1.700.000, smh. You can never go wrong with more space. Backup everywhere you can. Don't lecture me for privacy on Google and all that shit because I cried so hard when I realized I didn't have any backup, even online. I only have about 50-100 of them WHEN I SHOULD'VE UPLOADED ALL OF THEM (about 1000 or 2000 photos) !!! Hell.

Oh, and also, backup in several places. Example, you have Dropbox installed on your computer. Don't rely only on it. Use mega.nz, Google Drive, whatever you have. I made that newbie mistake. All of my photos on Dropbox and Mega were infected too because I had them installed and synced to my computer. Some of you might have several e-mails, use those too for Google Drive.

I had no idea for y'all iPhone users maybe you're stuck with iCloud lol.

Don't!!! Make!!! The Mistake!!! I Did!!!

tl/dr: backup everything you deemed important to your external hdd and cloud. You'll thank me later.

Saturday, September 8, 2018

September

Halo. Wow, udah lama juga yah nggak ngepost sama sekali, dari bulan Mei.

Apa saja yang udah terjadi?

24 SKS. Meeen, baru kali ini dapet 24 SKS dan alhamdulillah, dapet jadwal yang enak. Hahahaha (bukan sarkasme ya ini). Dapet libur juga hari Jumat :') tiap minggu punya long weekend. Doakan aku berhasil melewati semester ini dengan baik ya, soalnya semester depan harus ambil 24 SKS lagi.

Terus, nggak berasa tahun ini udah kepala 2. Gue pernah nggak inget kalo umur gue udah bukan 18 lagi. Hmmmm. Tahun depan udah legal deh. Tanggung jawab dan ekspektasi makin banyak... apa lagi tiba-tiba udah semester 5 aja. 2 atau 3 semester lagi gue udah harus lulus. Abis lulus, harus cari kerja.

Heh heh, jadi penasaran, nanti gue kalo udah kerja masih suka iseng nulis di blog kayak gini nggak ya? Kepinginnya sih iya. Biar gue bisa ngeliat lagi betapa bodohnya diriku saat menulis hal seperti ini hahahahah. Beneran nggak berasa udah 6 tahun blog ini berjalan. Wow, bayangin, gue udah di blog ini dari gue kelas 1 SMP. Sungguh sebuah komitmen.

Maaf ya gais, menulis bukanlah bakatku, jadi gue bakal jarang update blog ini (nggak ada yang nungguin juga sih). Nanti kalo gue udah lulus, kepingin buat post tentang rasanya jadi anak peminatan periklanan di UI sih... Hahaha doakan aja berhasil ya.

Tahun lalu apa kapan ya... Gue pernah bikin satu folder isinya tulisan harian. Ya sebagai orang yang malas, tentu aja rencana itu berantakan. Akhir-akhirnya cuma ada 10an lebih. Jangan dikira gue nulis cerita ya, isinya curahan hati (cieee).

Loh, udah mau Desember? Jauh sih, 4 bulan lagi. Seperti biasanya, waktu berjalan sangaaaat cepat. Ini efek apa ya, yang bikin waktu jadi berasa ngebut? Baru awal semester, tapi nanti mendadak nyadar, udah mau UAS aja.

Betewe anyway busway, gue seharusnya lagi mikirin gimana cara ngerjain review jurnal buat MPK dan PDKP sih, tapi dari minggu lalu gue kepikiran buat ngepost di blog, meskipun nggak tau mau ngepost apa juga sih.

Cheers,
D.

Sunday, May 13, 2018

Batal!

Halo,

Ternyata gue cuma tahan 2 minggu nggak pake Instagram dan Twitter, haha. Batal deh vakum sosial media. Awalnya gara-gara dikasih tahu snapgramnya Vinka, abis itu jadi kepikiran, ya udah lah main lagi aja. Tapi tetep nggak gue taruh di homescreen soalnya nanti jadi gampang banget bukanya. Oya, notifikasinya juga gue matikan. Wooow enak banget pagi-pagi nggak ada notif kedua itu.

Ngomong-ngomong... udah mau UAS lagi aja. Perasaan tahun lalu baru dapet Teori Komunikasi deh?! Kok sekarang matkul UAS-nya udah TPEP Crethink dsb ya. Terus... ngiri sama UGM, mereka punya minggu tenang. UI nggak punya :(

Terus, kemaren baru aja ngebuka blognya kakak kelas pas SMA yang sering gue baca. Pada udah nggak update lagi, kayak, terakhir tuh 2016. Kenapa gue masih nulis ya... dan nggak berasa, tahun ini, tahun kedelapan blog ini. Yay!!! Ternyata aku cukup konsisten menulis yah meskipun cuma ngalor ngidul begini.

Belum lama ini, gue chat sama dua orang. Wow, man. Seterbuka apapun orang, ternyata banyak sisi lainnya. Hehe termasuk acu sih. Pada dasarnya, ya semua orang sih. Kaget aja... kirain gue doang, ternyata nggak.

Sebentar lagi juga puasa, 15 Mei. Lah baru gue sadari itu kan 2 hari lagi... Jaaah. Sebulan lagi Idul Fitri. #halu #kejauhan.

Setelah UAS... 3 bulan liburan menanti diriku. Ga usah ngomongin soal magang, tengs. Aku masih ingin menikmati liburan. Lagian susah juga lah, kan ada jualan.

Oke. Seharusnya gue sekarang lagi nulis buat presentasi, bukannya nulis di blog. Tapi lebih menarik nulis disini. Selamat berpuasa, dan goodluck UAS-nya, semua orang!

Cheers,
D.

Friday, April 6, 2018

Hi?

Wow! Ternyata gue udah lama nggak nulis. Kangen juga ya. Jadi.. apa yang sudah terjadi sejak bulan November kemarin?

Banyak, sepertinya. Sayangnya banyak yang gue lupa, haha. Oh ya, sekarang... karena semester ini udah pilih peminatan, gue pilih Iklan. Aneh ya? Kayak bukan gue banget gitu. Jelas-jelas gue kayak robot gini kok milih yang meres otak buat kreatif. So far.. pengantar desain masih oke-oke aja. Ya nggak tau nilainya sih tapi berhubung dosennya 'ajaib'. 

Ini udah masuk bulan ketiga kuliah, dan anehnya gue nggak inget juga kelas gue dimana. Setiap pagi gue harus buka foto jadwal :') kesannya kayak pikun banget ya.

Semester ini juga rasanya capek, padahal gue nggak ikut kepanitiaan/organisasi apa-apa. He. Emang gue anak kupu-kupu sejati. Pulang langsung cabut, paling kadang ngabur aja sama temen. Sayangnya, gue merasa quality time semester ini sangat kurang sama temen. Entah kenapa juga, gue merasa udah rada.. nggak sinkron. Gue merasa ketinggalan dan nggak ada yang bantu buat mengejar ketertinggalan itu. Kadang gue berpikir, apakah ini benar?

Ya sudahlah.

Gue juga aktif Twitter lagi, personal dan fandom. Ketemu beberapa orang Indonesia yang ternyata... dulu satu sekolah beda cabang, hahahaha. Ada lagi yang ternyata satu tempat... Ckck. Nggak abis pikir.

Tapi, gue merasa kalau gue terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial. Bener-bener abis bangun, yang dibuka pasti Twitter dan Instagram. Bukannya gue tidur, gue malah menghabiskan satu jam buat buka Instagram. Parah. Di jalan, di kereta, lagi jalan ke kereta, gue buka media sosial. Gue merasa 'sakit'. Jadi, gue lagi mencoba untuk menghapus kedua media sosial itu dari layar awal gue. Nggak, nggak diuninstall, males login lagi soalnya. Doakan aku berhasil ya, teman-teman. 

Cheers,
D

Friday, November 10, 2017

Pengalaman Buruk Beli di Bukabuku.com

Halo blog. Udah lama ngga nulis, sekalinya nulis cuma buat komplain PENGALAMAN BURUK GUE BELI DI BUKABUKU KARENA REFUND YANG LAMA BANGET.

Jadi, ada salah satu toko buku online yang dulunya sangat gue rekomendasikan, namanya bukabuku.com. Gue udah beli disini dari tahun 2014 awal dan selalu beli dalam kuantitas banyak, lebih dari 5 buku sekali beli.

Kakak gue kebetulan mau beli bukunya Dan Brown, ya gue rekomendasikan dong buat beli di bukabuku.com. Kali ini gue cuma beli dua buku, dan keduanya berstatus 'stok di gudang supplier'. Udah beberapa kali beli gambling kalo tulisannya stok di gudang supplier, soalnya kadang ada kadang ngga. Ya dicoba dulu deh.

Udah beberapa minggu, selalu di-email begini.

Oke, gue refund aja lah. Ini udah sekitar 3 kali, jadi gue anggep stoknya abis ya.




Tanggal 11 Oktober 2017 gue ajukan pengembalian dana. Karena di websitenya ngga ada kejelasan berapa lama refundnya, gue email akhirnya. Gue tanya, gimana kelanjutan pengembalian dana gue?
Dijawab mereka, katanya 7-14 hari kerja, nanti kalau sudah direfund akan diemail.

Gue tunggu sampai tanggal 30 Oktober, kok ngga ada kabar? Berarti itu hari ke-13, ya. Gue coba email lagi dengan reply email kemaren, dan isi form bantuan juga. Dua hari kemudian, tetap ngga ada balasan.

Pantang menyerah, gue pun email lagi 5 KALI LEWAT FORM BANTUAN. Ngga ada balasan sama sekali. Nomor telponnya gue coba berkali-kali, ngga pernah dijawab, sementara yang (021) 3265-1615 selalu sibuk. Gue WA, ngga dibalas juga sampai tanggal 10 November 2017 (hari ini), padahal statusnya sempat online.

Gue pikir, kalau PELAYANANNYA SEBURUK INI, ngga mungkin gue doang yang ngalamin, kan? Di Twitter, ternyata banyak yang kasusnya sama juga, susah banget balik dan gantung karena ngga ada kejelasan dari CS. Di Facebook mereka banyak yang komplain.




Tiga orang ini hanya sekian dari banyak orang yang komplain ke Bukabuku.

tldr; Terhitung hari ini, tanggal 10 November 2017, jam 16.16, tepat saat gue nulis post ini, gue sudah telpon CS Bukabuku di nomor (021) 425-2263, TIDAK ADA RESPON MENGENAI REFUND SEBANYAK RP201.000. 

Sudah dihubungi lewat telpon, Twitter, WhatsApp, dan email. Tidak menghubungi lewat LINE karena tidak bisa di-add (terlalu banyak friends) dan BBM karena gue tidak punya BBM. Gue tunggu itikad baik dari Bukabuku.com untuk segera mengembalikan dana gue dan orang-orang lain yang dirugikan.

10 November 2017
Tertanda,
Dewi Nandita


UPDATE 11 November 2017
Akhirnya email gue dibalas setelah sekian lama dikacangin. Kapankah dana saya akan dikembalikan? We'll see.