Yah, jangan salahkan gue yang sering membahas masa lalu, ya? Gue selalu senang membahas masa lalu. Eh, maksud gue bukan sama yang itu (padahal gapunya gebetan, wakwaw). Sama siapapun itu, terutama sama temen baru. By the way, sekarang gue sudah delapan belas tahun lebih hampir dua bulan hidup di dunia ini. Belum banyak yang bisa gue banggakan ke orang-orang, selain hoki gue dalam ngebenerin komputer bermodal google dan nekat (hahahaha).
Gue memulai perjalanan gue di FISIP sebagai single fighter. Kenapa? Karena dari 243 siswa di SMA gue, yang minat dikit, dan kebanyakan pada masuk FH atau FEB. Alhasil, waktu jaman ospek, gue berjuang sendirian dengan aturan dan tetek bengek ospek. Sebagai orang yang SD, SMP, SMA, temen-temennya itu-itu aja, gue cukup kaget. Secara, dulu nggak pake kenalan juga udah kenal. Sekarang, gue harus kenalan lagi, memulai percakapan lagi, membangun hubungan lagi. Begitu terus selama 6 bulan terakhir.
Salah satu kata yang sering muncul saat sedang bercakap-cakap dengan teman baru di kuliah adalah,
"Pas SMA, gue..."
Nggak cuma sekali, dua kali, sering banget. Setelah ngobrol dengan orang-orang, gue baru sadar, kalau kenangan gue di SMA sedikit. Sedikit banget yang bisa gue ceritain ke orang-orang baru ini. Sejujurnya, gue sedikit menyesal. Kenapa nggak dari dulu aja, gue membuka diri dan ikut kepanitiaan segala macem. Minimal, ngurangin jam gabut, deh. Tapi, gue juga kangen SMA dengan segala keteraturannya, baik yang menyebalkan, maupun nggak. Gue orangnya nggak bisa spontan terhadap suatu rencana, makanya gue senang di SMA dan SMP yang kegiatannya sudah pasti sama dan perubahannya sedikit.
Pulang? Pasti antara jam 3-5.
Pergi? Pasti jam 6.30
Begitu saja, berulang setiap hari kerja. Sekalipun gue sempat sibuk dengan Labsproject, nggak pernah sampai mengubah rutinitas gue.
Begitu kuliah, gue sedikit kaget dengan semua ketidakpastiannya. Pergi, kadang jam 6.30, kadang jam 7, kadang jam 1, tergantung mata kuliah apa. Pulang? Kalau ikut kepanitiaan, bisa diatas jam 5, karena harus nyesuain sama semua anggota. Walaupun lagi kupu-kupu, jam pulang gue tetap beragam. Selain itu, faktor jarak dari rumah ke kampus ikut andil dalam kekagetan gue terhadap kuliah. Mungkin orang-orang yang rumahnya di Bekasi dan sekolahnya ke Jakarta, sudah biasa. Tapi gue, yang dari pertama sekolah, sampai SMA, jarak dari rumah ke sekolah cuma sekitar 10 menit, paling macet 20 menit, itu pun jarang, lumayan kaget. Sekarang kuliah di Depok, which is >1 jam dari rumah, dan harus naik kereta dulu. Jaman sekolah, kalau ada jam gabut pasti gue pulang dulu ke rumah dan ngajak temen-temen. Jaman kampus, kalau kegiatannya sore, ya numpang kosan orang.
Belum lama ini, gue berbincang dengan teman gue di kereta. Wajahnya kusut, kelihatan kalau dia sedang bete, katanya bosan di kuliah. Gue tahu dari cerita dia, dulu di SMP dan SMA hidupnya nggak sedatar dan sekosong di kuliah, minimal sehari ada saja cerita. Gue nggak bisa bilang apa-apa, karena kehidupan SMA gue datar banget. Kalau diandaikan, 3 tahun cerita gue di SMA mungkin hanya jadi buku ukuran A5, isinya sekitar 100 halaman. Dulu gue senang dengan rutinitas gue yang itu-itu saja, sekarang... Rasanya jenuh. Gue butuh sesuatu yang bisa gue kenang di masa depan. Nggak sekadar kenangan gue sendiri, tapi kenangan yang bisa dikenang bersama teman-teman.
Dengan segala ketidakpastiannya yang akan lewat tanpa disadari, gue mau di usia yang sudah mendekati kepala dua ini, gue di masa depan akan mengenang masa-masa kuliah dengan kalimat,
"Iya, dulu gue pas kuliah, begini lho..." disertai dengan senyum,
bukan, "Iya, sayang dulu gue nggak..." dengan penyesalan di sudut hati.
Post ini terinspirasi dari postingan teman gue, talkingverbivore.tumblr.com
I didn't take my chances and I regret that ever since.
No comments:
Post a Comment